Thursday, 7 May 2015

Kisah Singkat Segelas Susu



Patah hati adalah rasa yang paling menyakiti,

Jika bahagia ibarat segelas susu, 

Maka patah hati hanya diibaratkan sebagai sesendok garam,
Satu sendok yang akan merusak segala kenikmatan yang ada dalam gelas tersebut,

Sesederhana itu,

Namun,
yang terpenting dalam tertuangnya sesendok garam pada segelas susu adalah cara menghadapinya,

Ketika sesendok garam tersebut telah tertuang, 
orang yang segera mengaduknya akan merasakan rasa asin pada setiap tetes nya, 
tanpa terkecuali,

Berbeda dengan orang yang berfikir untuk tidak mengaduknya, 

Meskipun ada bagian yang sangat asin, 
namun masih banyak tetes yang dapat dinikmati,

Patah hati juga begitu,

Jika seseorang menghadapi patah hati tanpa berpikir jernih,
Dia hanya akan merasa patah hati telah merusak seluruh hidupnya,

Mungkin ia lupa, 

Tuhan telah memberi anugerah terbesar pada manusia berupa akal pikiran,

Akal pikiran yang akan menjadi tameng pada setiap serangan rasa patah hati,

Berpikir untuk menelaah kehadiran patah hati, 

Meletakkannya hanya pada suatu sisi kehidupan,

Tanpa gegabah untuk segera mengaduknya,

Sehingga patah hati hanya membuatnya sedikit merasakan rasa sakit,
Namun masih banyak sisi kehidupan yang dapat dinikmati,

Sesederhana kalimat,
'Jangan mengaduk segelas susu yang dituangi sesendok garam'


Sunday, 22 March 2015

Zona Nyaman Itu Semu



Teruntuk semua jiwa yang perlahan merapuh karena terbawa kenikmatan sejenak..
Sejenak,
Bahagia bukan perasaan yang lahir karena ada senyuman yang terkembang..
Atau ada tawa yang tertuang..
Atau karena kita berkata,'Aku Bahagia..'
Bahagia tidak sesederhana itu..

                Ada seseorang yang sedang tertunduk lesu, didekat jendela, meratapi derasnya hujan yang seakan sedang berlomba dengan derasnya air mata yang mengalir dipipinya..
                Seseorang yang telah berhasil berbohong pada jiwa lainnya namun justru semakin merasa semakin jujur pada jiwanya sendiri, bahwasanya kata 'aku bahagia' yang telah ia katakan pada teman, pacar, serta semua penghuni dunia maya membuat kata 'Aku Tidak Bahagia' yang tidak dia ucapkan semakin terdengar keras mengguncang jiwanya.
Seseorang yang merasa kehilangan apa yang selama ini dia miliki..
Seseorang yang sedang merasa diacuhkan, diabaikan, dan merasa tidak dianggap ada.
Jelas, ia tidak bahagia..

                Disudut lain di tempat yang berbeda, seseorang sedang menatapi kaca, meratapi betapa indahnya wajahnya sendiri sambil memuji didalam batin..
Dia memuji keindahan yang selama ini sebenarnya hanya menutupi rendahnya ia di mata masa depan..
Dan kebahagiaannya saat ini hanya untuk menyembunyikan ketidakbahagiaannya dimasa depan..
Jelas, ia tidak bahagia..

Dua orang tadi adalah sepasang kekasih..

Seorang pertama yang sedang merasakan ketakutan..
Ia merasa pasangannya berubah..
Rasa bahagia yang dia rasakan karena selalu dimanja hilang begitu saja..
Dan dia sedang menyesal karena baru saja berkata 'Aku Gapapa' kepada kekasihnya saat mendapat pertanyaan,'Kamu kenapa?'
Padahal, jelas, dia kenapa-napa..
Dan jelas, dia tidak sedang bahagia..

Kemudian seseorang yang tadi menatapi dirinya didepan cermin masih dalam keadaan yang sama..
Namun dengan tatapan yang kali ini berkaca-kaca, jelas itu adalah tatapan yang berbeda..
Dia sedang menyadari bahwa ia telah melewatkan beberapa hal..

"Dia lupa bahwa ia pernah bermimpi untuk bahagia..", mimpinya saat masih sendiri.
"Dan dia lupa bahwa ia pernah berjanji untuk membahagiakan..", yang dia ucapkan saat menyatakan cinta pada kekasihnya, beberapa waktu lalu, beberapa waktu yang cukup lama telah berlalu.

Cermin yang dia pakai untuk menatapi wajahnya sendiri, perlahan ia genggam lebih erat..
Dia merasa bersalah..
Dia terlena..
Waktu telah membuatnya lupa akan mimpi dan janjinya..
Rasa bahagia semu yang dia rasakan selama ini membuat ia lupa akan tanggung jawab besarnya..
Bahagia karena status 'berpacaran' membuatnya terlena pada zona nyaman..

Zona nyaman yang ternyata bisa membuat masa depannya sangat tidak nyaman..

                Karena bagaimanapun juga ketika seseorang sudah terlena di zona nyaman itu, ia cenderung berusaha mempertahankannya, tanpa berusaha mencari tahu apakah ada tingkatan diatas zona yang sedang ia nikmati itu..

Beruntung ia tidak melewatkan hal yang paling penting, kesadaran..

Akhirnya ia sadar bahwa selama ini ia sedang bahagia ditempat yang salah..
Dia sadar akan hal itu..
Kesadaran yang membuatnya meninggalkan cermin dan berniat mengambil telpon miliknya untuk menelpon kekasihnya..

Namun teleponnya berdering terlebih dahulu..
Membuat jantungnya berdering lebih cepat, 'Ada apa gerangan?'

'Halo.. Kenapa?', tanyanya.
'Aku ingin berhenti', jawab kekasihnya sambil terus memandangi hujan diluar jendela yang mulai mereda.

Perlahan-lahan pun dia meninggalkan zona nyaman untuk kembali ke zona tidak nyaman..
Akhirnya ada penyesalan yang datang..
Ehm,
                Sebenarnya niatan gua nulis semua yang diatas hanyalah sebagai kata pembuka, eh malah jadi kalimat pembuka, jadi paragraf pembuka..
Akhirnya, gua namakan semua tulisan diatas sebagai tulisan pembuka..
Pembuka nurani yang mungkin sedang bersembunyi pada kebahagiaan semu yang lo miliki saat ini..

Bahwa gua akan bilang, Zona Nyaman itu semu..
Sebahagia apapun lo sama pacar lo sekarang, itu gak akan menentukan kebahagiaan lo sama dia esok hari..
Sama sekali enggak..
Bisa aja disaat elo sedang terbawa mimpi indah karena tadi malam sebelum tidur mendengar ucapan selamat tidur dari pacar, esok harinya.. kalian malah putus..
Who know's?

                Atau ketika lo udah pacaran 1,2,3,4,5,6,7,8,9, atau bahkan 10 tahun. Itu gak menjamin lo akan menjadi orang yang berdiri disampingnya mendampinginya dipelaminan untuk menjabat para tamu undangan yang datang di tahun ke 11.. Sama sekali tidak ada yang dapat menjamin, sama sekali tidak..
                Apa yang akan lo lakuin ketika ditahun ke 11 ternyata elo menjadi orang yang menjabat tangannya ketika ia berdiri dipelaminan bersama pasangannya yang selama ini secara diam-diam bekerja keras?
Menjadi orang yang menerima undangan?  
Ya, akhirnya jabat tangan lo kepadanya akan menjadi jabat tangan perpisahan..
Dan jabat tangan lo kepada pasangannya akan menjadi 'ucapan selamat' yang mengakhiri perjuangan kerasnya selama ini..
                Oleh karena itu, seharusnya lo yang udah punya pacar jangan pernah meremehkan orang yang saat ini lo anggap jomblo, karena sebenarnya mereka lebih dari sekedar jomblo, mereka adalah orang yang sedang dalam proses menuju zona nyaman dari zona tidak nyaman yang sedang mereka jalani..
Tapi sebentar..
Bukannya sebelum punya pasangan, elo juga jomblo kan? Iya kan?

Itulah..
Terkadang orang yang sudah terlepas dari zona tidak nyaman dan meraih zona nyaman terlalu cepat berpuas diri..

Terlalu cepat puas ketika pasangan menjawab 'I LOVE YOU TOO' setelah lo berkata 'I LOVE YOU'..
Terlalu tenang ketika pasangan lo tersenyum setelah mendengar lo berjanji akan memberikan segalanya untuknya..
Terlalu bahagia ketika pasangan lo mengingatkan lo soal makan, mandi, tidur, bahkan cuci kaki!

TANPA LO SADARI ADA TANGGUNG JAWAB BESAR DIBALIK ITU SEMUA!!!

Ketika lo berkata bahwa lo cinta sama dia, CINTAI DIA!
Ketika lo berkata bahwa lo akan menikahinya, PERJUANGKAN DIA!

Jangan pernah merasa cepat puas, terlena dan sebagainya.. Jangan pernah biarkan rasa itu mengubah lo menjadi pecundang..
Menjadi pecundang yang selalu mengingkari janji..

Lo harus sadar bahwa ketika lo merasa sangat bahagia berada di zona nyaman, sebenarnya kebahagiaan itu kesemuan belaka..
Karena rasa bahagia yang semu itu hanya akan membuat lo lupa bahwa diatas zona nyaman masih ada zona istimewa..

Zona yang akan lo capai setelah selesai mengucap ijab qabul dan menyerahkan mahar..
Zona yang akan lo capai setelah para undangan pernikahan lo pulang meninggalkan ucapan selamat..
Zona yang akan lo capai setelah pasangan yang biasanya membalas sms lo kini menjadi pasangan yang selalu mengucapkan aamiin setelah lo selesai membaca Al-fatihah..
Zona yang akan lo capai setelah lo mengumandangkan adzan ditelinga bayi kecil yang baru saja lahir dari rahim pasangan lo..
Zona ketika lo menghadiri wisuda anak lo bersama pasangan lo..
Zona ketika pada akhirnya lo menjadi wali pada pernikahan anak lo..
ITU ZONA ISTIMEWA!

Zona yang tidak akan pernah lo capai begitu saja dengan berdiri di Zona nyaman.
Zona Istimewa adalah zona yang hanya bisa dicapai dengan cara keluar dari Zona nyaman dan berlari meninggalkan zona itu..

Karena harus ada yang dikorbankan untuk mendapatkan apa yang diinginkan..
Dan hasil tidak akan pernah menghianati prosesnya..

Setidaknya hal besar itu yang gua dapatkan selama menjadi mahasiswa akuntansi, sekecil kata Opportunity Cost..
Mengorbankan kebahagiaan semu sesaat untuk kebahagiaan nyata yang akan lo dapatkan..
Menggenggam tangan pasangan lo.. Mengajaknya meninggalkan Zona Nyaman serta sama-sama berjuang menuju Zona Istimewa..

Sebelum lo sampai pada Zona Istimewa dan masih terlena pada Zona Nyaman..

Lo bukan 'apa-apa'.. 

Ayo, jadilah 'apa-apa'.. 

Untuk masa depan kalian yang jauh lebih baik.. di Zona Istimewa..

Thursday, 19 March 2015

'Penyesalan' Hanyalah Mitos



Welcome to my paradise..
Where this sky so blue.. Where the sunshine so bright..
Sory itu bukan kalimat pembuka, gua cuma lagi check sound..
Ini baru kalimat pembuka. .
ehm..
mmm..
pembuka! hahaha
Becanda bro, becanda..

Apa kabar nih? Semoga dalam keadaan yang sehat walafiat baik jasmani maupun rohani..
Semoga masih jauh dari kegalauan dan kerinduan akan kebahagiaan. .
Itu basa-basi gua aja ya.
Kali ini gua akan membicarakan soal penyesalan.
             Penyesalan adalah fase dimana elo sedang menghadiri pesta pernikahan teman lo, dan ketika makan rendang, elo ngambil potongan paling besar, eh , ternyata malah lengkuas! Ya, itu memang nyesek. Tapi lebih nyesek lagi ketika teman lo itu menggoda lo dengan bertanya, 'Kapan Nyusul?'. Saat itu bibir terasa dingin, lidah menjadi kaku, mata mulai berkaca-kaca, kemudian elo kehilangan kontrol dan memeluk mertua mempelai wanita serta mencium keningnya penuh emosi! Tepat, lo ditangkap satpam! Lo digiring keluar! Dan lo dilempar begitu aja! Sakit? Penyesalan memang nyakitin..
Ehm,
Untuk memenangkan perang, elo harus menguasai medan...
Dan untuk mencapai tujuan, elo harus menguasai jalan...
Menguasai jalan dalam artian elo tahu jalan lain ketika buntu pada jalan utama. ngerti kan?
           Gimana ya, semacam kalo elo naik kendaraan, eh didepan lo jalanannya macet, kemudian lo belok kiri. Iya, semacam jalan pintas! jalan yang tetap akan mengantarkan lo untuk sampai pada tujuan utama, namun dengan cara yang berbeda. Sehingga elo gak perlu putar balik karena menyerah begitu aja.
Kehidupan juga soal tujuan dan bagaimana cara kita mencapainya..
Seperti kata pepatah, ada seribu jalan menuju cina..
Iya, seribu.. tapi kan gak disemua jalan ada alat transportasinya!
Jadi intinya, meskipun kita berganti jalan, namun harus tetap dalam jalan yang benar..
              Kalo jalan kita salah, bisa-bisa kita terlalu lelah sebelum sampai tujuan, hanya karena jalan itu ternyata jauh lebih panjang, dan akhirnya kita tidak sampai pada tujuan kita.
Atau bahkan apabila jalan yang kita pilih justru berlubang dan tidak layak pakai, bisa-bisa kita mati ditengah jalan, dan benar saja, kita tidak akan pernah sampai pada tujuan kita.
Kali ini gua bicara tentang efektifitas! Tentang bagaimana kita mencapai tujuan tanpa harus merasakan penyesalan.

Tanpa.. 
Harus.. 
Merasakan.. 
Penyesalan..

Mustahil? Memang..
Mari kita bicara kemustahilan..

Bagaimana sepasang kekasih saling mencintai.. Kalian memiliki tujuan membangun rumah tangga bersama, menikah!
Namun masih banyak waktu yang harus kalian lalui untuk tiba disana..
Menerima kekurangan pasangan?
Come on bro! itu sepele! Jawaban 'IYA' untuk kalimat pertanyaan itu harusnya udah ada sejak awal kalian menjalin hubungan.
Menerima kekurangan pasangan itu mudah..
Yang lumayan susah itu mempertahankan kelebihan kita dimata pasangan..
Gua bilang 'lumayan' ya, bukan susah..
Karena ada berbagai tahap yang akan dilalui oleh sepasang kekasih..
Tahap kenalan, sayang, pacaran, jatuh cinta, kemudian tahap dengan tingkat tertinggi, tahap MENCAPAI TITIK JENUH.
Tahap dimana elo mungkin mencoba menjadi pribadi lain atau menjadikan pasangan lo pribadi lain..
Tahap dimana elo mungkin menyerah sehingga putar balik, memulai dari awal, dengan pasangan baru yang bisa saja justru akan membuat lo putar balik lagi dan menyerah dalam tempo waktu yang lebih singkat dibanding bersama pacar lo sebelumnya.
Atau lo menyerah dan berhenti dijalan tanpa putar balik, patah hati berkepanjangan. Menunggu orang baru datang dengan sendirinya.
Semua mungkin.. Tapi tidak ada KEMUNGKINAN yang MENJAMIN..
Yang bisa MENJAMIN hanyalah KEPASTIAN..
Sehingga kalau lo masih kuat, gua saranin jalan terus bro! Genggam erat tangannya!
Kalian pasti bisa! Kalian hanya butuh jalan yang lain, jalan pintas, namun jalan itu harus tetap efektif..
Jalan disini berarti cara menjalani hubungan.. Cara lain yang bisa kalian lakukan ketika kalian berada dititik jenuh..
Tapi jangan sampai salah memilih jalan, tak perlu memaksa jadi  pribadi baru, dan jangan memaksakan pasangan lo jadi pribadi baru juga. Masalahnya bukan soal kepribadian, bukan soal itu. Toh bukannya kalian jatuh cinta karena kepribadian awal? Ya, seperti yang gua bilang diawal, kalian cuma perlu saling menjaga kelebihan dimata pasangan. Udah, itu aja. Boleh sedikit merubah diri, tapi jangan berlebihan! Karena berlebihan itu tidak baik..
Sampai akhirnya kalian sadar bahwa yang salah selama ini hanyalah cara, hanyalah 'Jalan'.
Dan seiring berjalannya waktu kalian masih saling menggenggam erat tangan pasangan untuk melewati titik jenuh. Dan ketika saat itu tiba, kalian telah berada pada tingkatan yang lebih tinggi!
Karena ketika sepasang kekasih telah melewati titik jenuh, ketika itulah mereka telah sampai pada titik kedewasaan dalam sebuah hubungan.
Ehm,
Tapi jangan puas diri dulu, ketika kalian sudah menikah nanti pun kalian akan merasakan titik jenuh lagi, tentu saja titik jenuh dengan tingkatan yang lebih tinggi.
Jangan putar balik! Lewati! Genggam tangannya lebih erat! Karena kehidupan memang soal peningkatan tak berbatas..
Saran gua, selalu pelajari kesalahan orang lain. Dan pertahankan kebenaran lo. Udah itu aja.
Sampai pada akhirnya lo akan merasakan kebahagiaan kembali. Kebahagiaan yang sempat memudar ketika kalian berada pada titik jenuh..
Benar kan? Kebahagiaan itu tidak akan pernah hilang, hanya sekedar memudar saja. Kalau sampai kebahagiaan itu tidak ada, itu bukan hilang, tapi lo yang membuang!
Akhir kata, kalo kita bisa menguasai jalan menuju tujuan.........
kata PENYESALAN hanya akan menjadi MITOS......

Tuesday, 24 February 2015

Cambuk Itu Menguatkan


            Beberapa hari yang lalu ada seseorang yang curhat tentang hubungan asmaranya ke gua. Namanya Prakoso, teman gua sejak pertama masuk kuliah. Curhat itu datang ketika kami sedang kuliah. Iya, sedang kuliah. Dan dibangku paling depan.
            Untungnya kami cowo, mengobrol dengan tetap pura-pura memperhatikan dosen sehingga tampak tidak sedang berbicara mudah bagi kaum kami.
Kebayang gak sih kalo kami ini cewe? Curhat saat kuliah di bangku depan?
Gua yakin baru kalimat pertama, kami udah dikeluarin dari kelas!
Hem, untungnya gua membatalkan niat operasi kelamin saat itu, sehingga gua bisa mendengarkan curhatan Prakoso ini sampai selesai tanpa dikeluarin dari kelas.
Jadi saat itu dia bilang gini ke gua,'kami putus lagi nick'
'Putus? Lagi?', tanya gua penasaran.
            Karena ini kedua kalinya dia curhat sama gua kalo dia habis putus. Dan perlu diketahui, setelah curhatan dia yang pertama itu, dia jadi orang yang emosian, mudah tersinggung, seakan patah hati yang dia rasakan merubah dia menjadi orang yang beda.
'Iya putus..', jawabnya.
'o..oke', kata gua sambil menggeser kursi gua sedikit menjauhi dia.
Gua takut kini perubahannya berlebihan.
Gua kan gak tahu apa yang akan terjadi.
            Bisa-bisa begitu sampai di akhir curhatannya dia langsung nangis dan mukulin gua karena menganggap gua ini orang yang tepat untuk melampiaskan emosinya. Oleh karena itu keputusan menjauhkan kursi kami gua rasa adalah keputusan tepat.
            Kemudian gua tutup mata, gua takut kalo tiba-tiba dia berdiri ke depan kelas lalu melucuti bajunya dan menari telanjang didepan kelas saat kuliah sedang berlangsung. Oke sepertinya imajinasi gua terlalu berlebihan, tapi disini yang gua tangkap adalah patah hati bisa merubah seseorang menjadi sosok yang berbeda. Sebatas itu.
Tapi gua masih penasaran. Gua coba untuk bertanya,'Lo gak akan gigit gua atau menari telanjang didepan kelas kan?'
'Enggak', jawabnya singkat.
Gua menghela nafas karena lega mendengar jawaban itu.
'Gua bakal mutilasi lo', lanjutnya.
Jantung gua berdetak semakin kencang setelah mendengar jawaban itu.
'el, elo,  elo serius?',tanya gua ragu-ragu.
Suasana hening.
'ya enggak lah, tenang aja, gua udah gak kaya dulu'
'gak kayak dulu ya?', tanya gua penasaran.
'Iya, sekarang gua udah beda'
Sampai disini gua merasa sedikit lega.
Kemudian dia bercerita panjang.
'Diputusin itu rasanya kaya di cambuk nick, lo gak akan tahu rasanya', katanya sembari menyindir gua.
'oh oke, gua memang gak pernah diputusin. tapi ajiz lebih parah men!' kata gua sembari menunjuk kearah belakang, arah dimana salah satu teman kami yang sudah jomblo seumur hidup sedang menatap bodoh ke arah kami karena sadar sedang dibicarakan.
Kami berpaling kedepan lagi.
Sambil berbisik teman gua yang lagi curhat itu berkata,'kalo dia mah udah gak ketolong jomblo akutnya. Orang-orang kaya dia gak akan tahu gimana rasanya dicambuk'.
Gua menatap mata Prakoso dengan sinis, kemudian gua berkata,'Kayaknya lo salah men. Justru setiap hari seumur hidupnya cuma untuk ngerasain penyikasaan deh'
PLAK! Ajiz menggebuk kepala gua pake buku.
'hehehe. sorry jiz. denger ya?', kata gua minta maaf.
'denger apa?', tanya dia kebingungan.
'LAH KENAPA LO NGGEBUK KEPALA GUA?!'
'Gak papa. Pengen aja', jawabnya polos.
            Baru gua mau balas menggebuk kepala ajiz, eh temen-temen sekelas udah pada ngeliat sinis ke arah gua. Oke gua urungin niat gua untuk menghindari tatapan sinis lainnya. Tatapan sinis dari mata dosen didepan yang akan mengancam nilai kuliah gua.
            Gua berbalik badan menghadap ke layar, layar dihadapan gua yang sedang dipakai oleh dosen untuk menjelaskan materinya. Kemudian tanpa menatap Prakoso gua bertanya,'Ada apa dengan cambuk?'.
            Dia membenarkan cara duduknya, kemudian ia sedikit menutupi mulutnya agar dosen tidak tahu bahwa kami sedang terlibat suatu obrolan.
'Gua pacaran dua kali. Gua diputusin dua kali.'
'Itu artinya gua dicambuk dua kali', jelasnya.
            Gua diam pura-pura memperhatikan dosen, tetapi pendengaran dari telinga gua yang semakin gua tajamkan tidak bisa berbohong bahwa gua sedang mendalami kata per kata yang muncul dari Prakoso.
Dia melanjutkan,'Oke mungkin kedengarannya lebay. Cowo diputusin ceweknya itu biasa. Dan mungkin seharusnya cowo itu akan dengan mudah cari cewe baru untuk dipacarin'
'Berarti lo lebay, karena lo gak bisa cari cewek lain', potong gua.
Prakoso menebalkan suaranya dan berkata,'kecuali dalam kasus jatuh cinta yang sebenarnya'
'Kasus jatuh cinta yang sebenarnya? Bukannya pacaran pasti jatuh cinta?', tanya gua penasaran.
'Iya tapi belum tentu benar-benar jatuh cinta.', terangnya.
Sampai disini gua paham, dia benar-benar mencintai mantannya itu.
Prakoso melanjutkan,'Karena itu, diputusin udah kaya dicambuk..'
'Dan gua udah dua kali dicambuk..'
'Apa lo masih inget saat pertama kali gua dicambuk?', tanyanya.
'Pas diputusin maksudnya?', gua bertanya balik.
Dia mengangguk tanda ucapan gua benar.
'Iya inget..Yang waktu itu lo mecahin pot dan bakar perpustakaan kampus itu kan?'
'Gak sampai segitunya juga kali nick', tanggapnya.
'Hehe, becanda bro'
'Iya intinya lo ngamuk-ngamuk gak jelas.'
'Yang itu bener..', kata dia.
'Karena cambukan pertama itu datang disaat tubuh gua masih lemah, lemah karena cinta', jelasnya.
'Bukannya cinta itu menguatkan?', tanya gua.
'Bisa gak sih gua ngomong gak dipotong?', kata dia dengan muka yang mulai memerah.
'Oups', gua meletakkan telapak tangan gua di mulut gua untuk menutup mulut ini rapat-rapat
'Gak nick. Cinta itu gak menguatkan, justru cinta itu melemahkan', jelasnya.
Gua masih tutup mulut.
'Jadi ketika tubuh gua dicambuk saat itu, gua merasa sakit yang luar biasa'
'Cambukan itu melukai gua.. Membuat gua terjatuh dan susah berdiri lagi..'
            Gua tahu kalimat itu gak dalam arti sebenarnya memang, tapi gua mengerti karena ketika dia diputusin pacarnya itu, dia menjadi patah hati berkepanjangan. Kuliahnya hancur, hidupnya hancur, seakan semua semangatnya hancur karena dicambuk.
Gua melepaskan tangan dari mulut gua.
'Di cambuk itu sakit kan? Terus kenapa lo memperjuangkannya lagi sampai akhirnya kalian balikan waktu itu?', tanya gua penasaran.
'Simpel nick. Gua benar-benar cinta sama dia', jelasnya.
Ternyata benar, cinta itu melemahkan.
'Akhirnya kan waktu itu setelah gua berjuang lagi akhirnya kami balikan..'
'Dan hubungan kami jauh lebih baik dari sebelumnya..'
'Saat itu dia seperti mengangkat gua yang sedang terjatuh sehingga bisa berdiri lagi.. Dan bisa berjalan bersamanya..'
'Bahkan kami udah menentukan tanggal pernikahan loh..'
'Dan kami berjalan bersama, berjuang menuju arah itu'
Gua memperhatikannya dengan seksama sambil berfikir 'ini anak kuliah aja belum lulus udah nentuin tanggal pernikahan. ckckck'
'Dan ditengah jalan gua dicambuk lagi..', katanya. Matanya berkaca-kaca.
'Biar gua tebak, Lo jatuh dan gak bisa berdiri lagi, Dan dia berjalan meninggalkan lo yang patah hati sendirian', kata gua.
'Lo salah..', katanya sembari menatap tajam.
Gua menelan ludah.
'Mungkin benar cambukan pertama membuat gua jatuh dan gak bisa berdiri.. Bahkan gak bisa jalan lagi..'
'Dan mungkin benar cambukan itu menyakiti gua sehingga patah hati gua begitu dalamnya'
'Tapi..'
'Tapi apa?' tanya gua penasaran.
'Tapi justru cambukan pertama itu membuat gua menjadi lebih kuat..'
'..Sehingga gua telah siap menerima cambukan kedua'
'Gua gak kesakitan lagi..', jelasnya.
'ohhhh.... Lo udah membuka hati buat cewe lain!', kata gua yakin.
'Bukan.. Sama sekali bukan!', jawabnya yakin.
'Bilang sama gua, elo gak jadi homo kan! Bilang sekarang!', kata gua ketakutan.
'Lo ngomong lagi, gua ludahin', kata dia.
Gua diam.
'Gua kan udah bilang, gua benar-benar cinta sama dia!', kata dia menggebu-gebu.
Gua menelan ludah lagi,'o,oke..'
'Jadi setelah cambukan pertama yang bagi gua menguatkan gua itu, Kini cambukan kedua bukan cambukan yang terasa menyakiti lagi..', terangnya.
'Berarti intinya sekarang lo gak patah hati lagi?', tanya gua.
'Patah hati sih iya.. Tapi karena karena gua udah lebih kuat sekarang, cara gua menyikapi cambukan pertama dan cambukan kedua beda..', jawabnya.
'Be, bedanya?'
'cambukan pertama itu membuat gua jatuh dan gak bisa berdiri, kemudian kami balikan..'
'Karena itu gua bisa berdiri dan berjalan lagi bersamanya. Bahkan berjalan kearah pernikahan..'
'Ditengah jalan..'
'..Gua menerima cambukan kedua'
'tapi gua gak jatuh! Gua masih bisa berdiri!', katanya bersemangat.
'Cambukan pertama membuat gua kebal!'
'Sehingga saat gua dicambuk lagi..'
'Gua justru berlari kencang!'
'Meninggalkan dia yang mencambuk gua!'
'Maksudnya? Sampai disini gua gak ngerti.. Tolong jelasin pakai kalimat yang lebih bisa membuat gua mengerti..', pinta gua.
'oke.. dulu gua menanggapi putusnya hubungan ini dengan emosi yang berlebihan sehingga hidup gua hancur.. Kuliah gua hancur.. Semangat gua hancur.. Saat itu gua begitu karena gua masih lemah..'
'Setelah gua kuat, pada cambukan kedua yang gua diterima di pertengahan jalan kami menuju pernikahan, gua menggapinya dengan berbeda. Gua gak mau menyia-nyiakan hidup gua lagi. Gua gak akan menghancurkan hidup gua lagi, karena gua memang udah lebih kuat sejak putus yang pertama.. Gua tahu bagaimana gua menganggapi putus yang kedua ini..'
'Gimana?', tanya gua.
'Dengan tidak menganggapi putus yang kedua ini sebagai cambuk yang menyakitkan', terangnya.
'Lalu?'
'Menganggap putusnya hubungan kami ini sebagai cambuk yang membuat gua berlari lebih kencang menuju tujuan pertama gua! Kesuksesan! Gua akan berjuang!'
'Sampai akhirnya gua sampai pada titik kesuksesan, lalu gua menjemputnya ditempat dia mencambuk gua itu dengan kendaraan yang udah gua miliki, karena gua udah sukses! Lalu kami berdua menaikinya sehingga kami lebih cepat sampai pada tujuan kami! Tujuan kedua gua! Pernikahan!'
'Oke gua ngerti sekarang.. Saat lo menerima cambukan kedua, cambukan itu membuat lo berlari lebih kencang dan meninggalkan dia.. Dan lo berlari menuju tujuan lo yang pertama, kesuksesan.. Baru setelah itu lo kembali ke dia dan mengajaknya menuju tujuan kedua lo, tujuan utama kalian berdua, yaitu pernikahan. Karena yang gua tangkap disini, lo punya dua tujuan.. ya kan?', kata gua.

Dia menepuk pundak gua sambil tersenyum pertanda setuju.

Kemudian gua singkirkan tangannya dari pundak gua.
Lalu gua bertanya,'Lalu apa yang akan lo lakuin sekarang?'
'MEMPERJUANGKAN KEDUA TUJUAN GUA!', jawabnya yakin.
'Em, Sorry bro, bukannya apa-apa ya, ini sorry banget loh'
'Gimana kalo yang tercapai cuma tujuan pertama lo?'
'Pas lo balik ke dia, dia udah melangkah bersama orang lain'
Dia menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian dia berkata dengan sangat yakin,'Gua akan lebih cepat dari orang itu!'
Kemudian gua menepuk pundaknya sambil berkata, 'Gua akan selalu mengamini perjuangan lo bro'.
            Kami berdua bertatapan mesra serta saling melontarkan senyuman termanis kami. Untungnya kami sedang dikelas dalam situasi perkuliahan, kalo kami tidak diposisi ini mungkin saja kami saling memeluk mesra. Pelukan yang terjadi antara dua pria berotot setelah selesai curhat. Untung saja kami tidak melakukannya.
            Akhirnya bel pertanda kuliah telah selesai telah berbunyi. Dan kami berdua berjalan meninggalkan kelas. Kemudian disimpang jalan kami berpisah. Terpancar senyuman yang mengembang di wajahnya. Senyuman yang tulus. Senyuman yang berkata bahwa dia telah menjadi lebih kuat. Senyuman yang akan menemani perjuangannya memperjuangkan cintanya. Senyuman yang semoga saja selalu ada sampai akhirnya dia tiba di tempat yang menjadi tujuannya, dengan wanita yang dicintainya itu.  
Semoga saja.
Ternyata benar, cinta itu melemahkan.
Dan cambuk lah yang mampu menguatkan..